Aku Terlahir Sebagai Putri Raja Chapter 1

Translator: JustSomebody13

English Translator: TtukiRabbit Translation


Prolog

Dulu aku adalah anak buangan selama SMP dan SMA. Aku bukannya diserang secara fisik atau seksual, meskipun begitu anak-anak yang lain membenciku. Saat itu aku tidak tahu alasannya kenapa. Aku sangat lihai dalam belajar dan kupikir tidak ada yang salah dengan kepribadianku. Saat tahun keduaku di universitas aku akhirnya tahu alasannya. Sungguh, aku mengetahuinya sangat terlambat.

“Ah, Kim So Hee? Keahliannya itu menggoyangkan ekornya (di depan para pria)*.”

“Benar! Ah… Dia benar-benar menyebalkan”

Begitu aku mendengarkan para perempuan itu diam-diam, yang kupikir adalah teman dekatku sejak aku masuk universitas, aku merasa sangat muak yang di luar dugaanku. Bagaimanapun juga aku merasa dituduh secara salah. Hingga saat itu, aku tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan orang lain. Ah, Ah, aku tidak bisa. Sampai seperti ini saja dikatakan sebagai sebuah alasan. Aku sangat sedih.

Pokoknya, di mata-mata wanita lain sepertinya aku selalu menggoyangkan ekorku di depan para pria. Seperti serigala berekor 100*. Sampai aku berusia 23 tahun, aku tidak tahu apa maksudnya itu. Meski begitu saat aku menua dan mencapai pertengahan 20-an, aku mulai menyadari mengapa. Aku bahkan tidak mengetahui atau meniatkannya akan tetapi pria berkelas tinggi selalu mencoba mendekatiku. Aku tidak pernah memintanya namun mereka membelikanku tas-tas dan kosmetik-kosmetik bermerek. Awalnya aku merasa terbebani dan menolak itu semua, meski begitu seiring bertambahnya usiaku aku mulai menikmati perhatian tersebut.

Seperti yang para wanita di masa-masa universitasku katakan, mungkin aku memang serigala berekor 100. Biar begitu saat aku mencapai usia 26 tahun, aku melabuhkan hatiku. Mungkin karena aku bertemu Jin Soo. Dia tidak punya uang dan juga tidak begitu tampan. Biar begitu, dia menghargai dan mencintaiku sepenuh hatinya. Saat aku bersamanya meskipun aku tidak merasa sangat bahagia setengah mati, aku selalu merasa nyaman. Aku merasa sangat bahagia dalam pelukannya, memakan makanan sederhana di ruangan kecil bersama Jin Soo membuatku lebih bahagia. Aku selalu berpikir bahwa hidupku dari usia 26 sampai 27 tahun adalah momen-momen paling membahagiakan dalam hidupku.

Biarpun begitu pada hari itu, hidupku hancur. Seorang pria, yang dulunya biasa mengatakan bahwa dia menyukai, bahkan mencintaiku dan mengejarku kemana-mana, tiba-tiba menusukku hingga mati. Dia bilang apabila dia tidak bisa memilikiku, maka biar saja kita mati bersama. Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi setelahnya. Di malam yang kelam, dia menusukku dengan sesuatu yang dingin dan tajam lagi dan lagi. Sakit.

Dengan tawa yang menyeramkan dan menjijikkan aku mendengar dia berkata,

“Aku cinta kamu. Aku cinta kamu.”

Aku mulai kehilangan pandangan mataku.

“Kau yang jahat, tahu. Kalau saja kau menerimaku, ini tidak akan terjadi.”

Aku tidak mendengar apa yang dia katakan begitu aku mulai kehilangan kesadaranku.

‘Tidak…’

Wajah Jin Soo muncul dalam benakku.

‘Aku tidak mau…’

Aku ingin hidup. Aku mulai mengingat SMS Jin Soo beberapa saat yang lalu.

“Hari ini aku selesai kerja lebih awal jadi aku membuatkan Doenjang-Jiggae. Pulang yang cepat. Aku merindukanmu.”

Jin Soo menungguku di rumah. Aku harus pulang ke rumah. Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi tak ada yang terjadi. Aku harus membalas SMSnya mengatakan aku juga merindukannya.

“Aku ingin… hidup.”

Aku masih belum mengatakan bahwa aku mencintai Jin Soo. Wajah Jin Soo terus muncul di mataku. Sejujurnya aku tidak merasa bahwa aku begitu mencintainya. Meski begitu di momen-momen terakhirku entah mengapa aku begitu merindukannya. Pikiran bahwa aku tidak bisa melihatnya lagi menyakitiku lebih dari luka tusukan itu. Sakit.

Aku mendengar suara pria itu lagi.

“Aku mencintaimu.”

Air mataku terus mengalir. Aku sekarat. Aku dapat merasakannya. Tapi aku benar-benar ingin mengatakan kata-kata itu. Bukan untuk pria gila yang menusukku, tapi untuk Jin Soo..

“Jin Soo-ya*, aku cin…”

Setelah itu aku terjatuh dalam kegelapan.

Aku benar-benar merasa seperti sedang tertidur. Aku merasa mungkin aku tidak benar-benar mati. Langit-langit yang tinggi, lampu LED yang masih terlihat baru, melodi era baru, selimut halus dan wangi manis yang hangat itu. Seluruhnya menyenangkan. Seluruhnya menyenangkan kecuali ini jelas bukan rumahku.

Benakku tiba-tiba terbangun. Bagaimanapun juga aku merasa aku sedang diculik. Benakku kosong dan aku mulai berteriak,

“ooh hhe hhe, ong hee hee, ong heee!”

Apa-apaan… aku tidak bisa berbicara. Aku membeku. Bagaimana bisa aku tidak bisa berbicara? Lalu aku menyadari kondisi apa ini. Aku tidak bisa mempercayainya. Ini pasti mimpi. Aku menutup kedua mataku erat dan membukanya lagi. Masih mimpi yang sama. Ayo coba cubit diriku sendiri…

‘uhmmm, aku hampir tidak bisa menggerakkan tanganku!!’

Aku hampir tidak bisa menggerakkan tanganku. Tubuh ini terasa seperti bukan milikku. Aku sekarang tahu. Aku menjadi seorang bayi. Hal yang sangat konyol sedang terjadi.

Lalu aku mendengar suara dari suatu tempat.

“Bayi jalang lagi?! Kau harusnya tahu malu!”

Saat itu aku tidak tahu kalau orang brengsek itu adalah Aboji*ku.


Catatan Penerjemah:

  • Menggoyangkan ekor (di depan para pria): peribahasa Korea yang artinya adalah menggoda para pria.
  • Serigala berekor 100: Siluman Korea bernama gumiho di Korea yang suka menggoda para pria dan memakan ginjal mereka.
  • Doenjang-jigge: Sup kedelai Korea dengan bumbu dari kacang difermentasi.
  • [Nama] -ya/a: Bentuk sayang saat memanggil seseorang yang usianya mirip atau lebih muda dari pembicara.
  • Aboji: Ayah (semi formal)